Ekonomi

Perkembangan Inflasi Harga Pangan Indonesia 2021–2026

Inflasi kelompok bahan makanan bergejolak (volatile food) di Indonesia mengalami perubahan besar sepanjang 2021–2025. Pada akhir 2024, inflasi kelompok ini tercatat hanya 0,12%, kemudian meningkat menjadi 6,21% pada akhir 2025. Hingga September 2026, inflasi pangan bergejolak berada pada 5,03% secara tahunan.

Diperbarui 22 Oktober 2026Periode 2021–2026
Sumber data: Bank Indonesia (BI), berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Publikasi: Analisis Inflasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Siaran Pers Perkembangan Inflasi Bank Indonesia, komponen Volatile Food (VF). · Satuan: persen

Tabel Data

Periode / LabelNilai (persen)
Des 20213.20
Des 20225.61
Des 20236.73
Des 20240.12
Des 20256.21
Sep 20265.03

1. Kondisi awal pada 2021

Pada Desember 2021, inflasi kelompok volatile food Indonesia tercatat sebesar 3,20% secara tahunan. Bank Indonesia menjelaskan bahwa kondisi harga pangan pada periode tersebut dipengaruhi antara lain oleh ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi bahan pangan.

Bank Indonesia

2. Kenaikan pada 2022

Pada Desember 2022, inflasi pangan bergejolak meningkat menjadi 5,61%. Dibandingkan Desember 2021, terjadi kenaikan sebesar 2,41 poin persentase, atau sekitar 75,31% secara relatif. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan harga kelompok pangan bergejolak lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

3. Perkembangan pada 2023

Inflasi volatile food kembali meningkat menjadi 6,73% pada Desember 2023. Angka ini lebih tinggi 1,12 poin persentase dibandingkan Desember 2022. Bank Indonesia mencatat bahwa pengendalian harga pangan pada 2023 juga menghadapi dampak fenomena El Niño, termasuk terhadap komoditas beras dan pangan strategis lainnya.

Bank Indonesia

4. Penurunan tajam pada 2024

Perubahan paling mencolok terjadi pada Desember 2024 ketika inflasi pangan bergejolak turun menjadi 0,12%. Dibandingkan Desember 2023, penurunannya mencapai 6,61 poin persentase. Bank Indonesia mengaitkan rendahnya inflasi kelompok ini antara lain dengan perbaikan produksi pangan dan koordinasi pengendalian inflasi.

Bank Indonesia

5. Kenaikan kembali pada 2025

Pada Desember 2025, inflasi volatile food meningkat menjadi 6,21%. Dibandingkan Desember 2024, kenaikannya sebesar 6,09 poin persentase. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa harga kelompok pangan bergejolak dapat mengalami perbedaan tekanan inflasi yang cukup besar dari satu tahun ke tahun berikutnya.

Bank Indonesia

6. Kondisi terbaru September 2026

Pada September 2026, inflasi kelompok volatile food tercatat sebesar 5,03% secara tahunan. Angka ini lebih tinggi daripada Agustus 2026 yang sebesar 4,06%. Bank Indonesia menjelaskan bahwa peningkatan tersebut dipengaruhi antara lain oleh gangguan cuaca dan penurunan produksi di sejumlah sentra pangan.

Bank Indonesia

7. Perbandingan dan interpretasi

Dalam kelompok data akhir tahun 2021–2025, inflasi tertinggi terjadi pada Desember 2023 sebesar 6,73%, sedangkan terendah pada Desember 2024 sebesar 0,12%. Selisih keduanya mencapai 6,61 poin persentase. Sementara itu, inflasi Desember 2025 lebih tinggi 3,01 poin persentase dibandingkan Desember 2021.

Data ini perlu dibaca sebagai laju perubahan harga secara tahunan, bukan tingkat harga pangan dalam rupiah. Inflasi yang melambat tidak otomatis berarti harga pangan kembali ke tingkat harga sebelumnya. Angka September 2026 juga belum dapat diperlakukan sebagai realisasi akhir 2026.

Metodologi & Catatan

Dataset menggunakan inflasi komponen bahan makanan bergejolak (volatile food) secara tahunan (year-on-year) berdasarkan publikasi Bank Indonesia yang mengolah data BPS.
- Tahun 2021–2025 menggunakan inflasi tahunan posisi Desember.
- Tahun 2026 menggunakan inflasi tahunan posisi September.
- Perubahan antartingkat inflasi dihitung dalam poin persentase.
- Kelompok volatile food bukan keseluruhan kelompok makanan, minuman, dan tembakau dalam klasifikasi IHK.
- Data 2026 merupakan realisasi periode berjalan, bukan proyeksi.