Luas Panen Jagung Indonesia 2020–2025
Luas panen jagung Indonesia meningkat dari sekitar 2.34 juta hektare pada 2020 menjadi 2.71 juta hektare pada 2025. Dalam seri ini, luas panen tertinggi terjadi pada 2022 sebesar 2.76 juta hektare, sementara nilai terendah terjadi pada 2021 sebesar 2.33 juta hektare.
Publikasi: Luas Panen dan Produksi Jagung di Indonesia · Satuan: juta hektare
Tabel Data
| Periode / Label | Nilai (juta hektare) |
|---|---|
| 2020 | 2.34 |
| 2021 | 2.33 |
| 2022 | 2.76 |
| 2023 | 2.48 |
| 2024 | 2.55 |
| 2025 | 2.71 |
Pada 2020, luas panen jagung pipilan Indonesia tercatat sekitar 2.34 juta hektare. Tahun tersebut penting secara metodologis karena sejak 2020 BPS mulai menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA) untuk menghitung luas panen jagung pipilan, menggantikan metode eye estimate yang sebelumnya digunakan. Dengan demikian, seri 2020–2025 relatif konsisten dari sisi metode pengukuran luas panen.
Pada 2021, luas panen sedikit menurun menjadi sekitar 2.33 juta hektare. Berdasarkan angka yang ditampilkan dalam DATA, penurunannya sekitar 0.01 juta hektare atau 0.43% dibandingkan 2020. Nilai 2021 sekaligus merupakan luas panen terendah dalam seri enam tahun ini.
Perubahan paling besar ke arah peningkatan terjadi pada 2022. Luas panen melonjak menjadi sekitar 2.76 juta hektare, bertambah sekitar 0.43 juta hektare atau 18.45% dibandingkan 2021. Angka 2.76 juta hektare merupakan nilai tertinggi dalam periode 2020–2025.
Pada 2023, luas panen turun kembali menjadi sekitar 2.48 juta hektare. Berdasarkan angka yang dibulatkan dalam dataset, penurunannya sekitar 0.28 juta hektare atau 10.14% dari 2022. Rilis resmi BPS dengan angka yang lebih presisi mencatat luas panen 2023 sebesar 2.48 juta hektare dan menyebut penurunan sekitar 0.29 juta hektare atau 10.43% dibandingkan 2022. Perbedaan kecil muncul karena pembulatan angka dalam dataset ini.
Pada 2024, luas panen kembali naik menjadi 2.55 juta hektare. Dengan menggunakan angka DATA yang dibulatkan dua desimal, kenaikannya sekitar 0.07 juta hektare atau 2.82% dibandingkan 2023. Data resmi BPS dengan presisi penuh mencatat luas panen 2024 sebesar 2548654 hektare.
Pemulihan berlanjut lebih kuat pada 2025, ketika luas panen mencapai 2.71 juta hektare. Berdasarkan angka DATA, kenaikannya sekitar 0.16 juta hektare atau 6.27% dibandingkan 2024. BPS, menggunakan angka sebelum pembulatan, mencatat peningkatan resmi sebesar 6.35%. Angka 2025 merupakan luas panen tertinggi kedua dalam seri, setelah 2022.
Jika dibandingkan dari 2020 sampai 2025 menggunakan angka pada DATA, luas panen bertambah sekitar 0.37 juta hektare atau 15.81%. Namun pergerakannya tidak berlangsung secara linear: luas panen turun pada 2021, melonjak pada 2022, menurun kembali pada 2023, lalu meningkat dua tahun berturut-turut pada 2024 dan 2025.
Data ini bukan proyeksi untuk tahun 2020–2025. Luas panen jagung pipilan dihitung menggunakan metode KSA. BPS menjelaskan bahwa metode KSA digunakan sejak 2020 dan menggantikan metode eye estimate berbasis pelaporan Statistik Pertanian. Untuk 2025, rilis BPS tanggal 2 Februari 2026 secara eksplisit menyatakan data sebagai angka tetap.
Metodologi & Catatan
Sejak 2020, BPS menghitung luas panen jagung pipilan menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA), menggantikan metode eye estimate melalui pelaporan Statistik Pertanian oleh Kepala Cabang Dinas Kecamatan. Karena seluruh seri dataset dimulai pada 2020, metode pengukuran luas panen relatif konsisten. Data 2025 telah dirilis sebagai angka tetap.