Produksi Jagung Indonesia 2020–2025
Produksi jagung pipilan kering berkadar air 14% Indonesia meningkat dari 12.93 juta ton pada 2020 menjadi 16.16 juta ton pada 2025. Produksi tertinggi dalam seri terjadi pada 2022 sebesar 16.53 juta ton, sedangkan 2025 menjadi tingkat produksi tertinggi kedua setelah meningkat 6.74% dari 2024.
Publikasi: Luas Panen dan Produksi Jagung di Indonesia · Satuan: juta ton
Tabel Data
| Periode / Label | Nilai (juta ton) |
|---|---|
| 2020 | 12.93 |
| 2021 | 13.41 |
| 2022 | 16.53 |
| 2023 | 14.77 |
| 2024 | 15.14 |
| 2025 | 16.16 |
Pada 2020, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% Indonesia tercatat sebesar 12.93 juta ton. Nilai tersebut merupakan produksi terendah dalam seri 2020–2025 yang digunakan pada dataset ini. Sejak 2020, BPS menghitung luas panen jagung pipilan dengan metode Kerangka Sampel Area (KSA), menggantikan metode eye estimate yang sebelumnya digunakan.
Pada 2021, produksi meningkat menjadi 13.41 juta ton. Berdasarkan angka yang dibulatkan dalam dataset, kenaikan dari 2020 sekitar 0.48 juta ton. Materi resmi BPS yang menggunakan angka lebih presisi mencatat pertumbuhan produksi sekitar 3.76% dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan yang jauh lebih besar terjadi pada 2022. Produksi jagung mencapai 16.53 juta ton, yang menjadi angka tertinggi selama periode 2020–2025. BPS mencatat produksi 2022 naik sekitar 23.20% dibandingkan 2021 berdasarkan angka produksi yang belum dibulatkan dalam penghitungan perubahan tahunan.
Pada 2023, produksi turun menjadi 14.77 juta ton. BPS mencatat penurunan sekitar 1.75 juta ton atau 10.61% dibandingkan 2022. Luas panen jagung juga turun dari sekitar 2.76 juta hektare pada 2022 menjadi 2.48 juta hektare pada 2023, sehingga penurunan produksi pada periode tersebut berjalan searah dengan penyusutan luas panen.
Produksi kembali meningkat pada 2024 menjadi 15.14 juta ton. Angka tetap BPS menunjukkan kenaikan sebanyak 364.48 ribu ton atau 2.47% dibandingkan produksi 2023. Luas panen pada 2024 juga meningkat menjadi sekitar 2.55 juta hektare.
Pada 2025, pemulihan berlanjut dan produksi mencapai 16.16 juta ton. BPS mencatat kenaikan sebesar 1.02 juta ton atau 6.74% dibandingkan 2024. Luas panen juga meningkat 6.35%, dari sekitar 2.55 juta hektare pada 2024 menjadi 2.71 juta hektare pada 2025. Meskipun naik kuat, produksi 2025 masih sedikit di bawah puncak seri pada 2022 sebesar 16.53 juta ton.
Jika dibandingkan antara 2020 dan 2025 berdasarkan angka yang ditampilkan dalam dataset, produksi jagung bertambah sekitar 3.23 juta ton, dari 12.93 juta menjadi 16.16 juta ton. Besarnya kenaikan tersebut setara sekitar 24.98% terhadap produksi 2020. Polanya tidak meningkat secara lurus karena terdapat pertumbuhan kuat hingga 2022, penurunan pada 2023, kemudian pemulihan pada 2024 dan 2025.
Data produksi ini bukan proyeksi. Produksi diperoleh dari kombinasi estimasi luas panen hasil KSA dan produktivitas hasil Survei Ubinan, kemudian dikonversikan menjadi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% menggunakan hasil Survei Konversi Jagung 2020. Untuk 2025, angka yang dirilis BPS pada 2 Februari 2026 sudah berstatus angka tetap.
Metodologi & Catatan
Dataset menggunakan produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% (JPK KA 14%). Sejak 2020, luas panen jagung pipilan dihitung BPS dengan metode Kerangka Sampel Area (KSA). Produktivitas diperoleh melalui Survei Ubinan, sedangkan konversi dari jagung tongkol kering panen menjadi jagung pipilan kering kadar air 14% menggunakan Survei Konversi Jagung 2020. Produksi merupakan hasil penggabungan luas panen dan produktivitas, sehingga bukan sekadar pencatatan administratif.